Menikah Setelah Wisuda

Menikah Setelah Wisuda - Kuyhijrah.com


Lulus kuliah rata-rata teman saya memutuskan untuk menikah. Alasan memutuskan untuk menikahpun beragam, ada yang karena memang dia sudah siap untuk menikah namun ada pula yang menikah hanya karena tak mau merasakan lelahnya bekerja. Alasan yang kedua memang sulit dipercaya tapi begitulah hasil dari obrolan hangat saya dua hari sebelum wisuda.

Mungkin masih banyak alasan lainnya yang belum terkuak dan temen-temen yang lagi baca tulisan ini bisa menyebutkannya sendiri.

Terlepas dari berbagai alasan yang ada saya tidak mempermasalahkan menikah pasca wisuda/ "menikah muda" yang saya sayangkan adalah "menikah tanpa ilmu yang cukup". Logikanya begini, untuk kita bisa bekerja sebagai seorang guru kita harus menempuh pendidikan yang panjang hingga bertahun-tahun. Lalu untuk kehidupan berumah tangga apa yang sudah kita siapkan? padahal rumah tangga adalah kehidupan unik yang membutuhkan persiapan ekstra^^

Maka menikah mudalah dengan persiapan yang cukup. Cukup ilmunya, cukup secara finansialnya dan cukup yakin meniti jalan kesyurga bersamanya hehe

Episode Milad Amani

 Episode Milad Amani- Kuyhijrah.com




“De, 17 tahun mau dibeliin apa?” tanya Ambar sambil menyunggingkan senyum manis ke arah adiknya. “Gak perlu repot-repot, kak. Kalu mau ngasih apa-apa nggak pas sama 17 tahun juga gak apa-apa,” adiknya menjawab dengan senyum yang tak kalah manisnya. Mereka memang kakak beradik yang manis, semanis persaudaraan yang selama ini terjalin erat.

“Ah... bohong bilang aja yang kakak mau. Boneka panda, jilbab baru atau mau minta pacar yang ganteng kayak Andi Arsyil Rahman1?” tiba-tiba ada yang nyeletuk di depan pintu menggoda Amani dengan mengedip-ngedipkan mata kanannya. Siapa lagi kalau bukan Anjar, adik laki-laki mereka yang super nyebelin. Ampun deh itu pilihan terakhir yang ditawarkannya bikin kedua kakaknya melotot hebat. Yang satu sambil melemparkan bantal dan yang satunya melemparkan guling ke arahnya. Membuat remaja kelas 3 SMP itu berlari menuruni anak tangga sambil membesarkan hatinya, “Beginilah kalau jadi adik terganteng.”
 
Selepas shalat asar Anjar bergegas ke belakang rumah. Kira-kira dia mau ngapain ya? Ngasih makan ayam-ayam kesayangannya, kah? Atau sekedar mau nyari ilham? Padahal kalau sekedar mau nyari Ilham kan gak perlu mondar-mandir gak jelas gitu, tinggal samperin aja ke rumahnya di ujung gang. Tingkahnya membuat kakak sulungnya terheran-heran. 

“Ngapain sih kamu mondar-mandir gitu? Kayak cacing kepanasan aja.” Tapi yang diajak bicara malah memajukan bibirnya,

” Udah deh kalau mau mandi, mandi aja. Tuh keringet udah nyebar ke seluruh ruangan rumah.”Sang kakak tak mau kalah menjawab, 

“Yeee kayak sendirinya udah mandi aja.” 

Sambil menatap cermin di kamar mandi, Ambar berpikir gimana ngasih surprize yang tepat buat adiknya. (niatnya emang nyari ilham, bukan mau mandi) Sedangkan di belakang rumah, sang adik bungsu hanya bisa memeras-meras rambut indah nan bersihnya. Benar-benar belum ada ide gimana cara ngasih kejutan buat kakaknya.
 
Terdengar ketukan pintu di kamar Ambar. Tadinya sih mau dibiarin aja, tapi ketukannya makin keras. Gak denger apa ya yang punya kamar lagi baca Qur’an. Membuat Ambar buru-buru membuka pintu kamarnya. 

“Assalamu’alaikum, kakakku yang shaliha. Maafkan adikmu yang manis ini telah mengganggumu,” kalau udah kayak gini pasti ada maunya. 

“Wa’alaikumsalam. Apaan sih, de? Ba’da maghrib gini kok udah keluar kamar. Pasti belum muroja’ah2 ya? Atau kesini mau minta diajarin PR?” kata Ambar.

Anjar menjawab dengan senyum dibuat-buat, “Baru dateng kok udah diberondong pertanyaan. Mengenai muroja’ah dan PR udah beres.” 

Ambar menjawab dengan kadar keheranan yang  meningkat,”Lah, terus kesini mau ngapain?” 

Bukan Anjar kalau gak nyebelin, iapun menjawab keheranan kakaknya,”Mau ngunci mulut Kak Ambar yang ekstra cerewet. Hehe.” 

Tapi sebelum Ambar mengeluarkan jitakan ekstrimnya, Anjar buru-buru bicara dengan setengah berbisik, mengutarakan maksud dan tujuannya. Setelah itu Ambarpun ikut berbisik, membuat cicak di langit-langit kamarnya penasaran setengah hidup.
 
Sepertiga malam yang sunyi. Gemericik air suci dan menyucikan membasuh wajah gadis manis yang beberapa jam lalu telah menyandang gadis berusia 17 tahun. Ya, 17 tahun. Kata-remaja zaman sekarang sih sweet seventeen.  Apakah 17 tahun baginya se-sweet yang mereka katakan?

Tidak ada pilihan lainbagi Amani selain bersimpuh, mengadu segala keluh kesah. Tujuh belas tahun bukan waktu yang pendek meski baginya terasa singkat. Di atas sajadah ia nikmati sujud demi sujud lalu berdoa, bermesraan dengan Zat Yang Maha Menenangkan.

“Wahai Allah Yang Maha Pemberi Nikmat, umurku kini 17 tahun. Namun berkahnya umur bukankah tidak ditentukan seberapa lama makhluk-Mu hidup di bumi ini? Maka dari itu berkahilah kehidupan hamba, berkahilah proses pencarian ilmu yang hamba jalani agar hamba dapat meraih cita-cita yang baik, agar hamba mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan agama. 

Di usia ke-17 tahun ini, hamba menyadari hamba belum bisa menjadi muslimah yang baik. Masih banyak sekali, bahkan mungkin tak terhitung kealfaan yang hamba lakukan. Maka dari itu selalu dekatkanlah hamba dengan orang-orang yang mampu mengingatkan dalam kebaikan. Ampunilah segala dosa hamba dan kedua orang tua hamba serta dosa kakak dan adik hamba dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba...” Doa gadis manis itu menggema ke seluruh alam raya diiringi permohonan para malaikat agar doanya Allahkabulkan.

 
Selepas tahajud di kamar masing-masing, Ambar dan Anjar pergi ke mushala yang terletak di sebelah kamar orang tua mereka. Mereka memang mempunyai kebiasaan muroja’ah bersama hafalan Al Quran seminggu sekali. Ketika Amani sampai di pintu mushala, ia melihat orang tuanyapun ikut berkumpul dengan adik dan kakaknya. Ia merasa heran. Tapi segera ia menepis keherananya itu di dalam hati, “Mungkin saja ayah dan ibu ingin melihat kami muroja’ah bersama.”

“Akhirnya Kak Amani datang juga,” kata Anjar dengan gaya ala host di acara Akhirnya Datang Juga.

“Nah, kalau udah kumpul semua, ayo langsung mulai aja muroja’ahnya. Walaupun ayah sama ibu bukan penghafal Al Qur’an tapi kan kalau menyimak hafalan Al Qur’an anak-anaknya gak apa-apa, kan?” kata ayah mereka.

“Ya, gak apa-apa dong, Yah. Menyimak yang baik insya Allah mendapat rahmat seperti membacanya,” Amani meyakinkan ayah dan ibunya.

Lalu Ambar memulai muroja’ah hafalan surah Al Muzamil dengan kelancaran, tajwid dan tahsin yang sangat baik, dilanjut dengan surah Al Insan oleh Amani pun dengan cara terbaik seperti yang dilakukan kakaknya dan yang terakhir muroja’ah surah ‘Abasa oleh kiper kesebelasan salah satu SMP Negeri di Jakarta yang membuat kakak-kakaknya sangat terkesima. Kini adik laki-laki satu-satunya mereka benar-benar memperlihatkan kesungguhan hatinya dalam menghafal. Anjar memang baru 6 bulan yang lalu menghafal Al Quran, sedangkan kakak-kakaknya sudah hampir setahun dibimbing oleh para pengajar Rumah Quran di dekat komplek rumah mereka.

Air mata sang ibu tak dapat dibendung lagi. Ia berkata dengan terisak,”Ibu bangga mempunyai anak-anak yang shalih dan shaliha seperti kalian.” 

Begitupun dengan ayah mereka yang mulai meneteskan air mata tetapi tidak menghilangkan wibawa yang melekat pada dirinya.
“Terimakasih kalian telah mempersembahkan hafalan terindah di sepertiga malam kali ini. Ayah doakan pula semoga kalian bisa hidup dengan iman yang baik dan berguna bagi sesama. Dan untuk Amani, semoga di usiamu yang ke 17 , kamu bisa menjadi anak yang shaliha dan lebih dewasa. Maaf ayah dan ibu tidak bisa memberikan kado seperti orang tua yang lain ketika anaknya berulang tahun,” 

Pak Harfan berbicara dengan wibawanya yang khas.”
“Doa ayah dan ibu adalah kado terindah sepanjang hidup ini. Maafkan Amani selama ini belum bisa menjadi anak yang berbakti dengan sebaik-baiknya,” Amani berkata sambil mencium punggung tangan ayah dan ibunya. Sedangkan kakak dan adiknya bersitatap dan tersenyum sambil berkaca-kaca pertanda rencana mereka berhasil. 

Lalu sang adik mengeluarkan sesuatu dari balik badannya, “Terimakasih ya, Kak selalu menyemangati untuk menghafal Al Quran. Ini buat kakak supaya kalau kemana-mana gak perlu bawa lagi yang gede, kan dibawanya kalau yang ini ringan. Semoga kakak selalu semangat  menghafal dan mengamalkannya.” Anjar memberikan Al Quran kecil bersampul biru langit. Wajah yang biasanya cengengesan itu kini terlihat sedikit dewasa dengan senyum manisnya. Lain lagi dengan Ambar yang memeluknya erat sambil berbisik, “Semoga umurmu selalu diberkahi Allah, dek dan kamu bisa menjadi muslimah yang baik dengan jilbab baru ini. Ketika remaja lain berbondng-bondong memakai jilbab karena mode, semoga kamu tetap istiqomah  memakainya karena ingin meraih ridha-Nya.

Bulir-bulir bening menetes dari ujung mata Amani. 

This entry was posted in

Ketika Dan Jatuh Cinta Part 3

Ketika Dan Jatuh Cinta Part 3 - Kuyhijrah.com

Jatuh Cinta

Assalamu’alaikum. Sorry, Mir kalau kata-kata gue menyinggung perasaan lu. Lu harus tahu penjelasan gue dulu. Sore ini kita ketemuan di masjid deket kantor pos yuk. Lu ngga lagi latihan futsal kan sore ini? Temenin gue ngajar ngaji anak-anak binaan. Nanti gue jelasin deh masalah yang siang tadi. Apa perlu gue traktir juga es campur Mang Nana kesukaan lu? Hehe
Kurang lebih seperti itu long message service yang dikirimkan Dan untuk Emir. Begitulah cara Dan memintaa maaf. Menurut riset khusus, memang seperti itulah cara jitu membujuk hati Emir yang sedang membatu, ajak dia ngobrol sambil minum/makan bareng, namun sayang sekali kali ini cara itu nggak mempan sama sekali. Long messsagenya Dan gak berbalas. Padahal Dan udah nunggu dengan segelas es campur Mang Nana kesukaan Emir. Rasa manisnya pun tak terasa nikmat. Hambar. Padahal Mang Nana selalu mengggunakan gula merah kualitas terbaik untuk cendolnya. Aduhai, mungkin seperti itu rasanya ketika ujian menerpa persahabatan. 

 Di ruang belajar yang penuh dengan konsep rumus penemuan Isac Newton, Gay Lusac, Kirchoff dan berbagai rumus penemuan fisikawan terkemuka lain yang menempel di tempat belajarnya, Emir hanya tertunduk lesu melihat lembaran soal latihan fisika dihadapannya. Dia gak berselera sama sekali dengan kuliah yang disukainya. Pesan dari Dan sore tadi telah merusak konsentrasinya. Bagaimana bisa anak mentoring  gak bisa jaga izzah perasaannya sendiri, pikirnya. Malam itu gak ada satu soal pun yang ia selesaikan.

Pagi yang cerah, meski gak secerah hati Dan yang kebingungan. Dan selalu bingung ketika ia harus menjelaskan permasalahan langsung secara lisan, mungkin karena ia terlalu terbiasa dengan bahasa tulisan. Ia terlalu terbiasa dengan ide-idenya yang ia tuliskan dalam artikel, terlalu terbiasa dengan imajinasinya yang ia tuangkan dalam cerpen-cerpennya yang inspiratif. Sosok yang membuatnya bingung dua hari ini tiba-tiba muncul di depan matanya. Semakin membuatnya bingung karena sosok itu membuang muka ketika bersitaatap dengannya. Sosok itu sahabatnya sendiri, Emir, si jago Fisika yang pagi ini belum menyelesaikan latihan soalnya.

Dan berbelok ke perpustakaan setelah mendapat kabar dosen Etika Bisnisnya gak hadir karena ada agenda ke luar kota, lalu memilih tempat di pojok ruangan. Ia mulai menyelesaikan puisi yang baru terangkai sebagian tadi malam. Cukup raganya yang di pojok, tapi pikiran dan hatinya berkelana, mencari cara yang tepat untuk meminta maaf kepada Emir.
Entah kenapa siangnya pun Dan bertemu dengan Emir. Ia gak mau kehilangan kesempatan meminta maaf. 
“Emir, tunggu. Kita harus bicara siang ini,” suaranya sedikit tercekat. 
“Sorry, Dan. Gue buru-buru, mau latihan futsal,” Emir menjawab tanpa melihat ke arah Dan. Ia sudah hafal betul suara Dan yang khas. Dan hanya berdiri kaku, menatap punggung Emir yang cepat menghilang dari pandangannya.

Bel jam istirahat pertama berbunyi, segera Emir melangkahkan kaki ke masjid. Hatinya terus menggerutu, 
“Gimana bisa gue lupa rumus pas ngerjain soal kuis tadi.” Setelah berwudlu, ia segera dirikan 2 rakaat Dhuha. Meski beberapa hari ini Dan gak menemaninya, tapi petuahnya buat menjalani sunnah Rasul-Nya selalu membekas di hati Emir. Bagaimanapun menyebalkannya Dan sekarang, bagaimanapun ia membuat hatinya kecewa, sungguh bagaimanapun tetap saja Dan adalah Dan, sahabatnya.

Minggu ini pergantian edisi mading Al Ghifari. Ari, adiknya Dan selalu tak mau ketinggalan info jika edisi baru sudah terpampang. 
“Kak Emir, liat deh. Ada puisi buat kakak loh di edisi baru ini, Ari mengagetkan Emir yang sedang berjalan melewatinya yang berdiri di dekat mading. Emir hanya meliriknya. 
“Ayo dong, kak sempatkan baca puisi yang di pojok. So sweet banget deh. Kali aja abis baca puisi ini bisa nambah semangat ngerjain soal Fisikanya,” Ari mencoba meyakinkan Emir. Emir pun dengan sedikit terpaksa membaca puisi di bagian pojok. Entah malaikat apa yang menggerakan hatinya untuk membaca puisi di bagian pojok mading itu. Emir yang hanya bersahabat dengan angka-angka itu, kini melirik puisi yang sama sekali bukan menjadi hal yang disukainya. 

Kau memang istimewa
dari sekian buku yang pernah kubaca
Kau ada untuk keistimewaan makhluk pilihan-Nya
Penerang kehidupan yang semakin tak karuan

Kau sangat terjaga
Tak ada satu pun makhluk yang mampu merekayasa keindahan firman-Nya
meski penistaan akan kemuliaannya terjadi diman-mana
Kau sangat terjaga, sangat istimewa

Kau membuat hati yang gersang jadi tenang
Membuat luka jadi bahagia
Langkah yang susah menjadi mudah
Membuat hidup semakin berkah

Aku jatuh cinta
Setelah kau kubaca
Meski diri masih hina
Tak mengapa, karena tanpamu aku akan semakin terlena

#YukJagaTilawah

*Untuk sahabatku, Emir. Semoga kau merasakan cinta yang sama, cinta kepada Al Qur’an. Cinta yang akan membuat setiap kata yang kutulis semakin bermakna dan Fisika yang kau pelajari semakin kau pahami. 

Emir langsung mengambil handphone dari saku celananya, memijit beberapa tombol, ia menelepon. Sayang sekali suara operator semakin menambah rasa sesal pada dirinya, 
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah....” Panggilan ia akhiri. Ia baru ingat kalau hari ini Dan punya agenda presentasi karya ilmiahnya.
“Lu selalu berusaha menjaga izzah(harga diri), lu terlalu bisa jatuh cinta pada sesuatu yang tepat ketika banyak anak laki-laki menyatakan kebohongan tentang cinta pada anak gadis orang,” Emir hanya mampu berkata dalam diamsambil memasukkan handphone ke saku celananya.


Satu kalimat dari penulis :
“Aku tidak tahu apakah ada anak laki-laki seperti Dan & Emir”
~Derai Hujan

TAMAT

Ketika Dan Jatuh Cinta Part 2

Waduk Darma 
“Aduuuh, Dan novel kakak gue bisa busuk kalau udah dua bulan, dua puluh dua hari, dua jam lu masih baca di halaman 20. Kak Andi udah nagih novelnya ke gue. Lagian lu gak biasanya baca novel segini lamanya,” Emir mengawali pertemuannya dengan Dan. Ia memperlihatkan novel yang tergeletak tepat di atas meja Dan yang pembatas bukunya nongkrong di halaman 20.

“Novelnya udah gue baca kok, cuma pembatasnya gak sengaja gue simpen di halaman 20. Niatnya pas shalat Dhuha nanti gue kasih. Alhamdulillah pagi ini lu mau berkorban naik tangga, nyamper ke kelas gue. Bilangin makasih ya sama Kak Andi,” Dan menjawab omelan Emir dengan tenang.

Jam hampir menunjukan ke angka 8. Emir kembali ke kelasnya terburu-buru, takut dirinya telat dan dapet wejangan super dari Pak Ajip, dosen Fisikanya. Namun ada sesuatu yang menggelitik hatinya, mengapa wajah Dan begitu tenang? Senyumnya pagi ini tak seperti biasanya.
Lagi-lagi Emir melihat Dan dengan pose yang sama, cuma bedanya kalau kemarin lusa dia berpose dengan tangan memeluk lutut sebelum azan dzuhur tiba, hari ini posenya dilakukan setelah shalat Dhuha selesai. Benar-benar pose yang gak bakal menarik potografer manapun buat ngejadiin dia model di kalender tahunan.

“Sob, gue punya list novel best seller yang bisa bikin pembacanya terinspirasi banget karena pesan penulisnya. Nih, gue bawa khusus buat lu,” Emir mengambil satu lembar kertas yang udah dilipat dari saku celananya.”

“Nggak perlu repot-repot. Lagian novel di rumah gue udah hampir satu lemari,” Dan menjawab dengan santai.

“Gue heran deh sama lu. Kemarin lu baca novel segitu lamanya, sekarang gue ngasih list novel best seller terbaru, lu kayak gak ada hasrat sama sekali buat ngeliatnya bahkan ngelirik kertasnya juga belum. Mana jiwa kutu novel yang selama ini lu pegang teguh sebagai generasi penerus novelis?” Emir berapi-api seperti orator ulung.

“Gue masih punya mimpi jadi novelis kok. Walaupun gue baru bisa bikin cerpen yang paling juga nongkrong di OA ISC atau di tumblr butut gue juga di mading kampus. Soal kenapa gue baca novelnya lama karena setiap kali gue bersama dia, gue sadar selama ini gue bisa nangis, ketawa-ketawa sendiri, terharu dan ngerasa dapet berbagai   motivasi dan inspirasi sama novel-novel yang gue baca sama sekali gak ada artinya kalau gue gak kenal dan mencintai dia.

Padahal dia lebih menginspirasi, lebih membuat gue terpesona, membuat setiap kali tarikan napas hidup gue ini bermakna dan gue baru merasakan kenyamanan ini hanya bersamanya.Gue bener-bener ...” Belum selesai Dan bicara, Emir memotongnya, “STOP, Dan! Gaya bahasa lu udah gak beres, bikin telinga gue panas. Sekarang lu jujur sama gue, lu udah gak punya hasrat sama novel karena lu udah punya gebetan yang sering lu kecengin, terus banyak waktu lu habisin sama kecengan lu.” Dan menatap Emir dengan senyumnya, “Tepat sekali, sobat.”

“Gue nggak salah denger, kan?” nada bicara Emir naik satu oktaf. “Ya nggaklah,” Dan menjawab mantap.

“Dan...” Kini nada bicara Emir turun. “Lu udah lupa sama janji kita?” Emir kini pasang mimik serius. “Janji yang mana ya?” Dan malah pasang wajah innocent-nya.

“Jadi, lu lupa sama janji kita di bawah tangga masjid Al-Ghifari ini? Lu lupa kalau kita pernah buat janji di atas kertas?” kini nada bicaranyanya naik dua oktaf. “Tanpa lu tanya pun, gue gak akan lupa sama janji itu,” Dan menjawab sambil membenarkan kaca mata minus empatnya yang sedikit melorot.

“Lu bilang gitu, tapi sikap lu berbanding terbalik sama omongan lu,” kini hatinya mulai tersayat. Entah sayatan membujur atau melintang yang membuat hatinya sakit sekali. (eh, sayatan yang ini bukan buat objek di mikroskop)

“Maksud lu?” Dan masih nggak peka.

“Lu lupa, kalau lu pernah bilang ke gue bahkan gak cumake gue tapi ke semua anak mentoring di kelompok kita. Lu bilang, jadi lelaki sejati itu gak perlu caper (red : cari perhatian), gak usah tebar pesona sama perempuan, boleh jatuh cinta tapi harus menjaga hati, gak perlu mengumbarnya apalagi mengungkapkannya bahkan lu selalu mengingatkan buat nyibukin fisik  supaya perasaan suka itu bisa diabaikan sebelum waktu yang Allah tentukan itu datang karena yang perlu jaga diri itu gak cuma perempuan tapi juga laki-laki,” Emir membayangkan kembali suasana ketika Dan bicara satu tahun lalu.

Suasana yang membuat sayatan di hatinya kini semakin tak terhitung, ia meneruskan kata-katanya, “Bahkan lu adalah orang pertama yang berkoar gak setuju saat gue punya rencana buat nembak si Kanza dan saat itu gue terima dan pahami petuah lu kalau pacaran bisa menghambat gue sebagai anggota mentoring yang harus berusaha memberi teladan yang baik untuk sesama,” Emir melanjutkan sambil mengikat sepatunya dengan kencang, sekencang ia mengikat hatinya dengan tali kecewa.

“Mir, gue gak lupa sama omongan gue yang itu. Tapi gak ada hubungannya sama kecengan gue,” Dan masih menjawab dengan tenang.

“Udah, Dan. Cukup sampai di sini. Yang lalu cuma senjata makan tuan.” Emir pergi membawa segenap rasa bernama tak menyangka.

Bersambung...

Baca Juga
Ketika Dan Jatuh Cinta Part 1