Episode Milad Amani

 Episode Milad Amani- Kuyhijrah.com




“De, 17 tahun mau dibeliin apa?” tanya Ambar sambil menyunggingkan senyum manis ke arah adiknya. “Gak perlu repot-repot, kak. Kalu mau ngasih apa-apa nggak pas sama 17 tahun juga gak apa-apa,” adiknya menjawab dengan senyum yang tak kalah manisnya. Mereka memang kakak beradik yang manis, semanis persaudaraan yang selama ini terjalin erat.

“Ah... bohong bilang aja yang kakak mau. Boneka panda, jilbab baru atau mau minta pacar yang ganteng kayak Andi Arsyil Rahman1?” tiba-tiba ada yang nyeletuk di depan pintu menggoda Amani dengan mengedip-ngedipkan mata kanannya. Siapa lagi kalau bukan Anjar, adik laki-laki mereka yang super nyebelin. Ampun deh itu pilihan terakhir yang ditawarkannya bikin kedua kakaknya melotot hebat. Yang satu sambil melemparkan bantal dan yang satunya melemparkan guling ke arahnya. Membuat remaja kelas 3 SMP itu berlari menuruni anak tangga sambil membesarkan hatinya, “Beginilah kalau jadi adik terganteng.”
 
Selepas shalat asar Anjar bergegas ke belakang rumah. Kira-kira dia mau ngapain ya? Ngasih makan ayam-ayam kesayangannya, kah? Atau sekedar mau nyari ilham? Padahal kalau sekedar mau nyari Ilham kan gak perlu mondar-mandir gak jelas gitu, tinggal samperin aja ke rumahnya di ujung gang. Tingkahnya membuat kakak sulungnya terheran-heran. 

“Ngapain sih kamu mondar-mandir gitu? Kayak cacing kepanasan aja.” Tapi yang diajak bicara malah memajukan bibirnya,

” Udah deh kalau mau mandi, mandi aja. Tuh keringet udah nyebar ke seluruh ruangan rumah.”Sang kakak tak mau kalah menjawab, 

“Yeee kayak sendirinya udah mandi aja.” 

Sambil menatap cermin di kamar mandi, Ambar berpikir gimana ngasih surprize yang tepat buat adiknya. (niatnya emang nyari ilham, bukan mau mandi) Sedangkan di belakang rumah, sang adik bungsu hanya bisa memeras-meras rambut indah nan bersihnya. Benar-benar belum ada ide gimana cara ngasih kejutan buat kakaknya.
 
Terdengar ketukan pintu di kamar Ambar. Tadinya sih mau dibiarin aja, tapi ketukannya makin keras. Gak denger apa ya yang punya kamar lagi baca Qur’an. Membuat Ambar buru-buru membuka pintu kamarnya. 

“Assalamu’alaikum, kakakku yang shaliha. Maafkan adikmu yang manis ini telah mengganggumu,” kalau udah kayak gini pasti ada maunya. 

“Wa’alaikumsalam. Apaan sih, de? Ba’da maghrib gini kok udah keluar kamar. Pasti belum muroja’ah2 ya? Atau kesini mau minta diajarin PR?” kata Ambar.

Anjar menjawab dengan senyum dibuat-buat, “Baru dateng kok udah diberondong pertanyaan. Mengenai muroja’ah dan PR udah beres.” 

Ambar menjawab dengan kadar keheranan yang  meningkat,”Lah, terus kesini mau ngapain?” 

Bukan Anjar kalau gak nyebelin, iapun menjawab keheranan kakaknya,”Mau ngunci mulut Kak Ambar yang ekstra cerewet. Hehe.” 

Tapi sebelum Ambar mengeluarkan jitakan ekstrimnya, Anjar buru-buru bicara dengan setengah berbisik, mengutarakan maksud dan tujuannya. Setelah itu Ambarpun ikut berbisik, membuat cicak di langit-langit kamarnya penasaran setengah hidup.
 
Sepertiga malam yang sunyi. Gemericik air suci dan menyucikan membasuh wajah gadis manis yang beberapa jam lalu telah menyandang gadis berusia 17 tahun. Ya, 17 tahun. Kata-remaja zaman sekarang sih sweet seventeen.  Apakah 17 tahun baginya se-sweet yang mereka katakan?

Tidak ada pilihan lainbagi Amani selain bersimpuh, mengadu segala keluh kesah. Tujuh belas tahun bukan waktu yang pendek meski baginya terasa singkat. Di atas sajadah ia nikmati sujud demi sujud lalu berdoa, bermesraan dengan Zat Yang Maha Menenangkan.

“Wahai Allah Yang Maha Pemberi Nikmat, umurku kini 17 tahun. Namun berkahnya umur bukankah tidak ditentukan seberapa lama makhluk-Mu hidup di bumi ini? Maka dari itu berkahilah kehidupan hamba, berkahilah proses pencarian ilmu yang hamba jalani agar hamba dapat meraih cita-cita yang baik, agar hamba mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan agama. 

Di usia ke-17 tahun ini, hamba menyadari hamba belum bisa menjadi muslimah yang baik. Masih banyak sekali, bahkan mungkin tak terhitung kealfaan yang hamba lakukan. Maka dari itu selalu dekatkanlah hamba dengan orang-orang yang mampu mengingatkan dalam kebaikan. Ampunilah segala dosa hamba dan kedua orang tua hamba serta dosa kakak dan adik hamba dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba...” Doa gadis manis itu menggema ke seluruh alam raya diiringi permohonan para malaikat agar doanya Allahkabulkan.

 
Selepas tahajud di kamar masing-masing, Ambar dan Anjar pergi ke mushala yang terletak di sebelah kamar orang tua mereka. Mereka memang mempunyai kebiasaan muroja’ah bersama hafalan Al Quran seminggu sekali. Ketika Amani sampai di pintu mushala, ia melihat orang tuanyapun ikut berkumpul dengan adik dan kakaknya. Ia merasa heran. Tapi segera ia menepis keherananya itu di dalam hati, “Mungkin saja ayah dan ibu ingin melihat kami muroja’ah bersama.”

“Akhirnya Kak Amani datang juga,” kata Anjar dengan gaya ala host di acara Akhirnya Datang Juga.

“Nah, kalau udah kumpul semua, ayo langsung mulai aja muroja’ahnya. Walaupun ayah sama ibu bukan penghafal Al Qur’an tapi kan kalau menyimak hafalan Al Qur’an anak-anaknya gak apa-apa, kan?” kata ayah mereka.

“Ya, gak apa-apa dong, Yah. Menyimak yang baik insya Allah mendapat rahmat seperti membacanya,” Amani meyakinkan ayah dan ibunya.

Lalu Ambar memulai muroja’ah hafalan surah Al Muzamil dengan kelancaran, tajwid dan tahsin yang sangat baik, dilanjut dengan surah Al Insan oleh Amani pun dengan cara terbaik seperti yang dilakukan kakaknya dan yang terakhir muroja’ah surah ‘Abasa oleh kiper kesebelasan salah satu SMP Negeri di Jakarta yang membuat kakak-kakaknya sangat terkesima. Kini adik laki-laki satu-satunya mereka benar-benar memperlihatkan kesungguhan hatinya dalam menghafal. Anjar memang baru 6 bulan yang lalu menghafal Al Quran, sedangkan kakak-kakaknya sudah hampir setahun dibimbing oleh para pengajar Rumah Quran di dekat komplek rumah mereka.

Air mata sang ibu tak dapat dibendung lagi. Ia berkata dengan terisak,”Ibu bangga mempunyai anak-anak yang shalih dan shaliha seperti kalian.” 

Begitupun dengan ayah mereka yang mulai meneteskan air mata tetapi tidak menghilangkan wibawa yang melekat pada dirinya.
“Terimakasih kalian telah mempersembahkan hafalan terindah di sepertiga malam kali ini. Ayah doakan pula semoga kalian bisa hidup dengan iman yang baik dan berguna bagi sesama. Dan untuk Amani, semoga di usiamu yang ke 17 , kamu bisa menjadi anak yang shaliha dan lebih dewasa. Maaf ayah dan ibu tidak bisa memberikan kado seperti orang tua yang lain ketika anaknya berulang tahun,” 

Pak Harfan berbicara dengan wibawanya yang khas.”
“Doa ayah dan ibu adalah kado terindah sepanjang hidup ini. Maafkan Amani selama ini belum bisa menjadi anak yang berbakti dengan sebaik-baiknya,” Amani berkata sambil mencium punggung tangan ayah dan ibunya. Sedangkan kakak dan adiknya bersitatap dan tersenyum sambil berkaca-kaca pertanda rencana mereka berhasil. 

Lalu sang adik mengeluarkan sesuatu dari balik badannya, “Terimakasih ya, Kak selalu menyemangati untuk menghafal Al Quran. Ini buat kakak supaya kalau kemana-mana gak perlu bawa lagi yang gede, kan dibawanya kalau yang ini ringan. Semoga kakak selalu semangat  menghafal dan mengamalkannya.” Anjar memberikan Al Quran kecil bersampul biru langit. Wajah yang biasanya cengengesan itu kini terlihat sedikit dewasa dengan senyum manisnya. Lain lagi dengan Ambar yang memeluknya erat sambil berbisik, “Semoga umurmu selalu diberkahi Allah, dek dan kamu bisa menjadi muslimah yang baik dengan jilbab baru ini. Ketika remaja lain berbondng-bondong memakai jilbab karena mode, semoga kamu tetap istiqomah  memakainya karena ingin meraih ridha-Nya.

Bulir-bulir bening menetes dari ujung mata Amani. 

This entry was posted in