Menunggumu

Puisi Terbiasa Menunggu

by Windi SJ

Puisi Menunggu - Yuk Hijrah

Sebelum dipertemukan denganmu
Menunggu adalah hariku
Menunggu adalah caraku setia
Menunggu adalah caraku untuk tetap yakin

Setelah bertemu denganmu
Menunggu tetaplah hariku
Menunggu tetaplah bukti setiaku
Menunggu adalah keyakinanku

Dengan menunggu
aku bisa menambah rindu
Mengekspresikannya meski hanya dengan memandangmu
Menghabiskan setiap detiknya meski hanya dengan memelukmu

Menunggu sudah menjadi hariku
Indah meski sekejap
Bak siang berganti malam




Baca juga puisi lainnya

Jika temen-temen suka karya-karya saya silahkan kunjungi https://www.tumblr.com/blog/windisj dan https://www.wattpad.com/user/WindiSJ
This entry was posted in

Hidup Itu Pilihan

Puisi Hidup itu pilihan

by Windi SJ

filosofi hidup adalah pilihan

Hidup itu pilihan
Maka pertimbangkan & perhatikan
Langkahmu menuju sebuah pilihan



Karena hidup adalah pilihan
Semoga tak buru-buru melabuhkan
Agar tak menangis dikemudian



Karena hidup adalah pilihan
Semoga tak tertipu hiasan
Yang jadikan hati penuh penyesalan


Baca juga :

Jika temen-temen suka karya-karya saya silahkan kunjungi https://www.tumblr.com/blog/windisj dan https://www.wattpad.com/user/WindiSJ
This entry was posted in

Bagian 2 Novel Puzzle

Kecewa


Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan
Bersandarlah kepada-Nya

Silahkan Baca Dulu:
Bagian 1 Novel Puzzle


            Hari ini adalah hari pertama bagi Ziya menjalani kehidupan tanpa orang-orang terkasih didekatnya. Subuh pertama dia jalani seorang diri, sepertinya hanya dia yang bangun. Suara keran atau bahkan derit pintu tetangga pun tak juga ia dengar. Mencoba untuk berprasangka baik, Ziya berfikir mungkin mereka sedang berhalangan. Usai shalat, seperti biasa berdzikir dan tilawah menjadi hal wajib yang harus dilakukan.
            Matahari di Singgahan rupanya menyambut Ziya dengan gembira. Dia memancarkan sinarnya dengan begitu terang, menghangatkan jiwa dan mengajarkan setiap manusia untuk selalu mengucap syukur, karena ternyata sekali lagi Allah masih memberikan kesempatan kepadanya untuk mengumpulkan pahala serta bekal pulang.
            Telah lebih dari satu tombak sinarnya memancar, maka Ziya harus segera bersiap-siap ke kampus untuk menyelesaikan administrasi.
            “Bismillaahi tawakkaltu 'alalloohi laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya upaya dan tidak ada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah )” Ziya membaca do’a sebelum pergi.
            Tak perlu waktu lama, karena memang jarak kosan dan kampus itu hanya beberapa langkah saja. Saat memasuki gerbang kampus, kembali ia menatap visi misi kampus yang mengedepankan nilai-nilai Islami. Bibirnya tersenyum bahagia, walaupun di kampus swasta dan belum terkenal, asalkan mengedepankan nilai Islami, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.
            Suasana di kampus masih terasa  sepi, hanya ada satu dua orang saja yang berlalu lalang itupun sepertinya memiliki tujuan yang sama dengan Ziya. Wajar saja, ini masih bulan-bulan libur semester. Mungkin nanti setelah OSPEK suasana kampus baru akan terasa.
            Ziya melangkah menuju gedung rektorat, seorang bapak dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih tersenyum pada Ziya.
            “Mau bayar administrasi mbak?” tanya bapak itu.
            “Ya, pak. Nama saya Naziya Khairatunnisa, saya mahasiswi baru jurusan PGSD.” Jawab Ziya lengkap.
            “Total biayanya 8 juta mbak, ini rinciannya. Dan untuk pembayaran bisa lewat BJ* atau BN*.”
            “Kalau bayar di sini bisa pak? Biar saya tidak usah bolak-balik.”
            “Bisa, silahkan formulirnya diisi dulu.”
            Ziya pun mengisi apa-apa yang harus diisi. Kemudian bapak itu pun memberikan bukupetunjuk pelaksanaan OSPEK. Setelah segala bentuk admiministrasi sudah dibereskan, dia pun berkeliling di sekitar kampus. Untuk ukuran kampus yang baru berdiri, cukup lumayan. Hanya saja ternyata belum ada Masjid di situ. Tapi, sebagai penggantinya ada Mushola kecil di tiap lantai.
            Naik ke lantai tiga gedung A, di situ barulah terlihat banyak orang. Ada yang fokus membaca buku dan ada juga yang sibuk dengan handphonenya. Mata Ziya memperhatikan satu persatu orang-orang itu, ternyata tak satupun dari mereka yang berpakaian sebagaimana mestinya seorang muslim. Kerudung yang dikenakan wanita-wanita itu biasa saja, bahkan cenderung tidak sesuai syariat. Begitu pula dengan para laki-laki itu, mereka justru terang-terangan merokok sembarangan. Ziya kembali berprasangka baik.
            “Ah, mereka kan masih calon mahasiswa baru. Mereka juga baru mau ikut tes. Belum tentu mereka lolos semua. Dan kalaupun lolos, aku yakin mereka yang hari ini seperti itu akan berubah karena di kampus ini sangat mengedepankan nilai-nilai Islami.” Gumam Ziya dengan rasa prihatin melihat calon mahasiswa baru yang akan mengikuti tes.
            Ziya pun berlalu dari hadapan mereka dengan terus menundukan pandangan. Sebagian ada yang menatapnya dengan heran. Dan sebagian ada yang berbisik-bisik, entah apa yang dibicarakannya.
            Ditengah langkahnya, Ziya teringat bahwa dia belum Shalat Duha. Maka, dengan wudhu yang masih terjaga dia segera menuju Mushola kecil dilantai dua.
            “Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah mempermudah jalanku untuk sampai di kampus ini. Terima kasih karena aku tak perlu mengikuti jalur tes untuk bisa lolos. Ya Allah, tolong dampingi aku kemanapun aku pergi. Jauhkan aku dari hal-hal yang tidak Engkau ridhoi. Aamiin.”
            Belum sampai Ziya membuka mukena, tiba-tiba...
            “Kamu shalat apaan jam segini?!” Tanya seorang lelaki berkulit hitam dengan rambut sebahu.
            “Astagfirullah...,” Ziya kaget. “Shalat duha.” Lanjutnya dan segera membereskan mukena.
            Tanpa rasa malu, lelaki itu tetap berdiri dipintu Mushola dan memperhatikan Ziya yang tengah membereskan mukena. Sontak karena perbuatan lelaki itu, Ziya merasa tidak nyaman dan buru-buru untuk pergi dari tempat itu.
            “Maaf, saya mau lewat.” Ucap Ziya sembari keluar dari Mushola.
            Lelaki itu masih saja menatap Ziya dengan tatapan yang menakutkan. Ketika langkah Ziya sudah hampir jauh, lalu lelaki itu berlari kecil.
            “Hei, tunggu! Aku mau ngomong.” Sembari mengejar
            “Ada apa!?” Tanya Ziya ketus
            “Nama ku...,” kata lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.
            Namun belum sempat lelaki itu mengucapkan siapa namanya, dia sudah kaget duluan karena Ziya segera menyatukan kedua tangannya seperti hendak bersalaman sebagaimana yang telah diatur dalam Islam ketika bersalaman antara ikhwan dan akhwat.
            “Kamu kenapa! Perasaan tangan aku bersih?” Tanya lelaki itu penuh keheranan.
            “Maaf, tapi kita bukan mahram.” Karena takut, Ziya langsung pergi meninggalkan lelaki itu dengan setengah berlari.
            Lelaki itu masih heran dengan sikap Ziya. Dia terus melihat jari-jari tangannya, barangkali ada kotoran menempel.
            “Wanita yang aneh. Perasaan ni tangan bersih higienis deh! Terus tadi ngomong apaan coba, mahram? Apaan tuh! Ah... yang jelas itu makhluk unik banget.” Gumam lelaki berambut gondrong itu.
            Karena ketakutan, Ziya memutuskan untuk tidak melanjutkan melihat-lihat sekitaran kampus. Dia lebih memilih untuk segera pulang.
***
            Tengah hari di Singgahan kian membara. Panasnya menambah sesak ruangan, terlebih lagi jendela kamar yang tak bisa memberikan cukup ruang untuk udara segar masuk. Memang, akan sangat nikmat kalau bisa merebahkan tubuh sambil menikmati udara dingin dari kipas angin. Namun sayang, Ziya memilih untuk berusaha keluar dari berbagai kenyamanan yang biasa diberikan orang tuanya.
            “Ah, kayanya aku ke tempat jemuran aja. Menikmati angin di tempat itu pasti menyenangkan.” Ucap Ziya dalam hati.
            Ziya pun keluar dari kamarnya, kemudian berjalan ke arah ruang TV dan membuka pintu menuju jemuran khusus penghuni lantai dua. Beberapa pakaian menggantung, menghiasi setiap tali yang menjulur panjang. Beruntung di tempat itu, Pak Uus menyediakan kursi goyang berukuran kecil terbuat dari karet.
            Ziya duduk menikmati angin panas ditengah hari. Matanya terpejam lenyap dalam imajinasi. Sesekali angin datang menghempaskah udara segar tepat ke wajahnya, lalu membawa dirinya terlelap dalam sekejap. Membawanya hanyut dalam rasa yang gamang.
Namun selang beberapa menit dia terpejam, terdengar gelak tawa beberapa anak gadis, sehingga membangunkannya. Rupanya penghuni kosan baru hamper semua menempati lantai dua, itu artinya yang menghuni bagian bawah adalah para senior. Ada niatan dalam hatinya untuk segera bangun dan berkenalan dengan mereka. Namun, dia belum memiliki cukup keberanian untuk memulai. Maka melanjutkan meranjut mimpi ditengah hari menjadi sebuah pilihan yang diambilnya.
            Matanya memang terpejam, tapi sebenarnya telinganya masih mendengar jelas suara bahagia para calon mahasiswa. Panggilan adzan Dzuhur dari setiap sudut kota Kuda mulai menggerakan setiap hati yang teguh memegang keimanannya. Hati yang dimiliki oleh mereka yang senantiasa terus menggantungkan pengharapan hanya kepada-Nya. Sedangkan sebagian hati yang tak memiliki rasa cinta terhadap Sang Pencipta masih setia dengan aktivitas dunianya bahkan mereka sambut panggilan cinta-Nya dengan gelak tawa bukan dengan do’a.
            Ziya mulai merasakan kehidupannya tidak akan baik-baik saja di kota itu. Dia sudah melihat bagaimana mereka mengekspresikan cinta pada Sang Kuasa. Dzuhur itu menjadi awal tumpahnya air mata Ziya. Bagaimana tidak? Impiannya tentang suasana kosan yang Islami musnah sudah. Dadanya terasa sesak karena bukan barisan akhwat sholehah yang kini akan mewarnai kesehariannya, melainkan barisan wanita yang senang mengumbar aurat dan lupa akan akhirat.
            Dalam kondisi yang tidak nyaman seperti itu, Ziya mulai merasa tertekan. Dia menyadari imannya tak seteguh para akhwat yang ada di Palestina. Seperti dikatakan dalam sebuah hadist, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

            Dari hadits tersebut Ziya belajar bahwa ketika berteman ataupun bersahabat dengan orang baik, kemungkinan kita akan menjadi baik atau minimalnya kita mendapati kebaikan dari orang itu. Ziya benar-benar ketakutan, dia takut perlahan lingkungan yang kejam mampu menggoyahkan keistiqomahan yang telah ia bangun dengan susah payah. Dalam sujud terakhir ia perbanyak doa, memohon perlindungan dan keteguhan hati.
            Senja menghampiri kemudian dalam hitungan masa kembali meninggalkannya, berganti dengan malam yang mencekam membuat hati meringis menahan kepedihan yang disebabkan sahutan-sahutan jalang serta balasan panggilan cinta Sang Pencipta oleh gelak tawa tanpa rasa berdosa.
Sepertiga malam mengelus lembut mata yang hampir semalaman mengekspresikan kepedihan hatinya. Karena-Nya mata itu pun terbuka. Tangannya bergerak melepaskan dua ikatan syetan yang membelenggu, perlahan dia buka satu persatu dengan do’a. Kemudian kakinya berusah untuk melangkah agar Ziya bisa membuka belenggu syetan yang ketiga yaitu dengan air wudhu.
            Cahaya cinta seorang hamba kembali memancar hingga kumandang adzan Subuh terdengar. Tapi, untuk kedua kalinya bahkan mungkin jika Allah tak berikan hidayah bagi mereka, hal itu akan berlangsung selamanya. Subuh akan terasa sepi, lantaran jiwa-jiwa muda masih terhempas dalam indahnya mimpi dan  sudah tak peduli akan panggilan Ilahi.
            Setelah melewati hari yang mengerikan dan bisa jadi hal itu akan terjadi kembali serta berlangsung selamanya, disatu Subuh Ziya kembali mendapatkan semangatnya untuk tetap bertahan dan menahan.
            Dalam suasana yang seperti itulah Ziya berusaha menguatkan kembali hatinya, menumbuhkan keyakinan bahwa di kampus, dia akan menemukan akhwat yang sefrekuensi dengannya.
***

            Malam-malam yang kelam harus terus dia rasakan hujamannya. Tapi, semua itu tidak akan berarti apapun lagi karena dihari ini dia akan menemukan akhwat-akhwat sholehah di kampus. Pikirnya.
            Ziya begitu bersemangat, sebelum derit pintu tetangga terdengar, Ziya sudah siap. Pakaian hitam putih dan masih dengan kerudung lebarnya tetap ia pertahankan. Dia tak peduli identitasnya dan persyaratan panitia yang harusnya terlihat kini tertutupi kerudung lebar itu. Sekali lagi dia tak memperdulikan itu.
            Benci terhadap sifat orang-orang di kosan adalah hal yang wajar. Tapi, walaupun demikian Ziya tidak pernah membenci orang-orang itu. Maka dengan bibir yang masih setia melantunkan dzikir, Ziya menunggu tetangga-tetangga kamarnya untuk keluar dan pergi ke kampus bersamaan. Lama waktu berselang tak menyurutkan semangatnya sedikitpun. Sampai akhirnya satu-persatu tetangga yang belum dia kenal itu keluar dari kamar dan mengajaknya untuk berangkat bersama.
            “Ayo berangkat.” Ajak salah seorang teman kosannya yang agak tomboy tanpa perkenalan dulu.
            Ziya hanya mengangguk sembari tersenyum bahagia. Tapi ternyata dari sekian banyak orang di kosan itu, hanya gadis tomboy itu saja yang menyapanya. Selebihnya mereka justru menatap dengan tatapan heran, menggunjingnya dengan sayup-sayup tak mengenakan. Dari situlah Ziya mulai memisahkan diri, memutuskan untuk berangkat seorang diri.
            “Jangan biarkan sesuatu yang tidak kita inginkan masuk ke dalam fikiran kita.” Gumam Ziya tanpa henti, berusaha untuk tetap berfikir positif dan menguatkan dirinya.
            Langkah yang semakin cepat dan diiringi kata-kata motivasi yang terus ditujukan pada dirinya sendiri berhenti bersamaan saat tatapannya tertuju pada satu titik. Titik kerumunan mahasiswa baru dan para senior yang begitu mengagumkan.
            Mengagumkan karena ternyata, tak dia temukan satu orang akhwatpun yang menjuntaikan kerudungnya dan tak dia temui satu orang ikhwanpun yang menundukan pandangan serta menjaga diri dari berhalwat. Dia heran mengapa di kampus dengan lebel Islami yang begitu diagungkan ternyata seperti ini.
            Semuanya kini malah terbalik, karena ternyata mereka merasa heran dengan kehadiran sosok akhwat berjilbab lebar, berpenampilan serba tertutup tanpa lekukan sedikitpun, tanpa hiasan penipu penglihatan, dan tak mau berjabat tangan dengan ikhwan. Mereka bertanya-tanya, mengejek dalam sayup-sayup suara, dan menggunjing dalam kerumunan masa, lantaran penampilannya yang terkesan ketinggalan zaman.
            Dengan nafas yang begitu sesak, Ziya berusaha melewati hari dengan keceriaan. Berusaha berbaur meski tak semua orang bisa menerimanya. Adzan kembali berkumandang, seluruh aktivitas dihentikan. Panitia menginstruksikan untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu. Tapi ternyata instruksi itu hanya peraturan tanpa aplikasi. Di waktu yang seharusnya digunakan untuk shalat, para panita justru malah sibuk mengerjakan ini dan itu, sesuatu yang tidak jelas dan hanya sebagian kecil saja dari para panitia yang sadar akan kondratnya sebagai seorang hamba. Sementara para pesertanya pun tak jauh berbeda, hanya satu dua saja yang tergerak untuk menunaikan perintah Allah.
Shaf akhwat begitu longgar dan saat mata Ziya berusaha menelusup hijab, dia pun hanya melihat satu barisan ikhwan saja. Hatinya kembali meringis, tat kala takbiratul ihram dilakukan, itu semua menjadi awal dimana dia sudah tak sanggup lagi membendung air mata. Dia terus menahan agar air matanya tak sampai jatuh, namun ternyata dalam sujud terakhir semua rasa haru dan sesak itu tumpah dalam doa berselimut air mata. Beban fikiran dan ketidaksiapan atas ujian yang telah ada di depan mata, membuat Ziya tak mampu mengungkapkan sepatah kata pun dalam do’a. Air matanya mengalir, hatinya terus beristigfar dan fikirannya terus menyibak masa yang tidak pernah diinginkannya.
            “Maaf, ini kayanya udah waktunya kegiatan lagi deh.” Ucap seorang gadis dengan suara serak-serak basah.
            “Asatagfirullah... makasih sudah diingatkan.” Ucap Ziya.
            “Aku tungguin ya, biar nanti kita barengan.”
            Ziya pun bergegas membereskan mukenanya dan berusaha menyembunyikan kesedihannya.
            “Kenalkan, nama ku Indah.” Ucap gadis dengan suara serak-serak basah itu sembari menyodorkan tangan.
            “Aku Ziya.” Jawabnya singkat disertai senyuman.
            “Kamu tadi kenapa? Kok nangis? Aku sebenarnya nungguin kamu dari tadi. Tapi karena keliatannya lagi khusyuk jadi aku tungguin deh!”
            “Nggak apa-apa kok! Ndah.” Jawab Ziya singkat.
            Shalat dzuhur adalah titik dimana Allah pertemukan Indah dengan Ziya. Keduanya ternyata disatukan dalam satu kelompok untuk kegiatan perkemahan dalam acara puncak rangkaian OSPEK dan keberadaan Indah cukup mengobati rasa gundah dalam hati Ziya.
            Waktu berlalu dengan begitu cepat, menyisakan rasa yang tak mampu dijabarkan meski dengan tinta. Tak mampu diungkapkan meski dalam do’a. Hanya mampu dirasakan kepedihannya.
            Gadis bernama Indah pun melambaikan tangannya, memberikan senyuman tulus untuk teman yang baru dikenalnya beberapa saat.
            “Zi, aku pulang duluan ya, jangan lupa nanti malam telpon aku kalau kesepian hehehe.” Ucap Indah pada Ziya.
            “Ya, InsyaAllah Ndah.” Ziya pun tersenyum geli, malu karena Indah ternyata mampu menebak bahwa dirinya begitu kesepian.
            Bak oase dipanasnya gurun, begitulah kehadiran seorang Indah. Hati yang sempat menjerit pada langit tanpa suara itu, kini lirih mengucap syukur. Bagaimana tidak? Dari sekian banyak kenyataan pahit yang harus ditelan oleh Ziya, Allah masih sisipkan penyejuk mata lewat gadihkonyol bernama Indah.
            Lama waktu berselang, Ziya mulai belajar memahami situasi yang mungkin bisa kapan saja mengikis keimanan di hatinya. Meneguhkan hati dalam kesendirian dan sepertiga malam menjadi sebuah rutinitas yang tak bisa dilepaskan dan berusaha untuk tidak dilepaskan oleh Ziya.
            Ketegaran dalam hatinya mulai terbangun, semuanya tergambar jelas tat kala malam terakhir di bumi perkemahan yang penuh dengan kemaksiatan dia mampu melewati semua itu. Kesal yang membuncah dalam hatinya membuat Ziya memilih untuk tidak memejamkan mata. Dia lebih memilih menyandarkan tubuhnya disalah satu tiang yang menyangga bangunan sederhana tempat para peserta dan panitia ospek berteduh dari dinginnya air hujan di malam hari.
            Matanya menatap utuh setiap sudut tempat itu. Terlihat bagaimana jiwa yang berbalut pakaian tebal itu tidak merasa risih sedikitpun ketika mereka tidur hampir berdekatan dengan ikhwan. Panitia pun seolah menutup mata dengan kondisi itu, dengan dalih untuk berjaga-jaga takut terjadi sesuatu, mereka lantas mengabaikan aturan agama.
            Menghela nafas dalam-dalam, memendam seluruh amarah dalam diamnya. Ziya hanya tertunduk ditengah-tengan mereka yang terlelap dengan nyamannya.
            “Hal ini salah Ya Allah, tapi mengapa lidahku begitu kelu untuk memberontak ketidak benaran ini? Mengapa aku tak bisa melakukan apapun Ya Rabb?” Hati itu terus terpaut pada-Nya, memohon ampun atas ketidak berdayaannya.
            Malam terakhir di bumi perkemahan adalah malam yang mengerikan bagi Ziya. Matanya tak bisa terpejam walau hanya sedetik pun. Bagaimana bisa terpejam? Jika disekelilingnya penuh dengan dosa yang disamarkan. Gemericik air hujan semakin malam bukan semakin mereda, tapi makin menjadi. Udara dingin menusuk, menambah pedih dihatinya. Pedih yang teramat, membuat fikirannya melayang pada masa-masa indah dan mudah.

Note Putri SM
Hujan membawaku pada rindu
Gemericiknya seolah mengajak pada masa lalu


Kutembus hujan demi rinduku
Basah tak masalah bagiku
Terpenting adalah rindu


Rindu berselimut harap dan angan
Pada semu dan abu-abu
Semakin rindu semakin semu
Semakin rindu semakin abu-abu


Menunggu hujan tak jua reda
                                                            Pun jua rindu yang tak jua berlalu
This entry was posted in

Terkadang

Puisi Terkadang

by Windi SJ
Terkadang KBBI


Terkadang kita sering berkata terkadang
Berandai andai
Bermain romantisme dalam imaji
Tertawa dan menangis tanpa disadari

Menikmati hidup dalam “terkadang”
Bahagia dalam hayalan
Tenggelam hingga percaya
Semua akan menjadi nyata

^_^


Baca Juga karya lainnya :
tanpa rasa
tentang dosa manusia
tentang menunggu
ingin lebih lama
kesombongan
kopi dan rindu
kumpulan puisi angin


Jika temen-temen suka karya-karya saya silahkan kunjungi https://www.tumblr.com/blog/windisj dan https://www.wattpad.com/user/WindiSJ
This entry was posted in

Puisi Ayah

Ayah

by Windi SJ


Mentari,
Pagiku selalu indah karena sinarmu

Yang bukan hanya sekedar hangat terasa
Tapi melukiskan cinta,
Cinta pada ku dan semesta

Mentari,
Pagiku selalu indah karenamu
Kau sanggup menggati gelap dengan terangmu

Wahai mentari
Terima kasih
Karena pagi ini kau sudi bersembunyi
Membiarkan dingin menyelimuti

Hingga dapat ku rasa
Hangat kasihnya



puisi di atas adalah sepenggal puisi di novel Puzzle karya Windi Sj
Jika temen-temen suka karya-karya saya silahkan kunjungi https://www.tumblr.com/blog/windisj dan https://www.wattpad.com/user/WindiSJ

#the prom novel#puzzle#ayah#novelpuzzle#windisj#muslimah#cinta#tentangrasa#sajak puisi#puisicinta#puisi
This entry was posted in

Bagian 1 Novel Puzzle

"Ayah"

Karya Windi SJ


Wahai pelita 
bagaimana aku memahami rasa cintamu?


Garis-garis putih bagai pelangi di mata Ziya, sepanjang hari dan hari-hari sebelumnya, kota Santri yang damai selalu ditemani panas mentari dan hembusan angin penyejuknya. Tanaman padi dan bunga-bunga liar di sepanjang jalan, nampak layu serta kering. Ujung kerudung pun akan beralih fungsi menjadi cadar tat kala beraktivitas di luar rumah. Namun, masih ada ujung kerudung yang tetap menjuntai, sempurna menutupi aurat sebagaimana titah Tuhannya.
Dalam suasana siang yang panas, Ziya menyandarkan kepala pada sosok ibu yang sedang asyik membaca Qur’an di teras rumah.
“Bu, besok Ziya akan pergi. Doakan Ziya supaya di sana bisa betah dan semakin istiqomah di                jalan Allah.”  Ucap Ziya.
“Iya Zi, ibu do’akan semoga Ziya selamat di perjalanan, betah di sana, dan semoga selalu                     dikelilingi orang-orang yang sholeh dan sholehah. Jangan pernah tinggalkan sholat dan jangan             pernah berlaku curang. Lakukan apapun sesuai kemampuanmu sendiri dan selalu libatkan                  Allah disetiap langkah.”
Ziya hanya tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Setiap kata yang diucapkan ibunya seolah-olah menyibak lembaran kisah perjuangan hidupnya. Dimana semasa SMA dia selalu menjadi siswi yang jujur dan bahkan ketika guru-guru memberikan bocoran soal, Ziya masih kukuh untuk tidak tergoda. Dia juga jadi teringat bagaimana perjalanannya memperjuangkan cita-cita, berusaha masuk ke universitas besar yang dia inginkan dengan selalu menggandeng nilai-nilai kejujuran. Hingga pada satu titik dia menyerahkan seluruh pengharapan hidup di sepertiga malam. Ziya terus meminta yang terbaik, sampai pada akhirnya Allah menggiring ia ke kampus swasta dengan lebel Islaminya.
Tiba-tiba Ziya meneteskan air mata, menangisi dilema yang berkecambuk dalam hatinya dan seakan begitu berat baginya untuk menjalani kenyataan yang seperti mimpi buruk. Ibunya menatap Ziya dan perlahan menghapus air mata putri tercintanya. Beliau faham betul, bahwa Ziya belum bisa menerima kenyataan bahwa dia harus mengubur cita-citanya.
“Bu, bolehkan Ziya katakan sesuatu tentang Allah?” Ucap Ziya dengan suara berat penuh beban.
“Ya, apa Zi,” Ucap ibunya dengan lembut.
“Ibu tahu kan, Ziya tuh sangat mencintai Allah bahkan nggak  pernah sedetikpun Ziya lupa menyebut nama-Nya dalam hati. Ibu juga tahu nggak ada yang lebih Ziya cintai selain dari Dia, hingga ketika Dia katakan bahwa seorang muslim itu harus cerdas, Ziya pun berusaha untuk itu. Ibu juga tahu kan, bagaimana Ziya menghabiskan malam? Bagaimana Ziya berjuang, agar bukan hanya menjadi muslim yang ta’at, tapi juga jadi muslim yang bermanfaat. Lalu mengapa Dia nggak mengabulkan do’a Ziya untuk menjadi seorang dokter? Padahal Ziya telah mewakafkan diri ini, untuk kebaikan ummat jika nanti Ziya telah menjadi seorang dokter. Ziya telah mewakafkan diri ini untuk membela mereka yang saat ini sedang berjuang membela Islam di tanah mereka. Mengapa bu? Mengapa Allah nggak berikan jalan untuk Ziya ke sana? Apa permintaan Ziya begitu hina? Apa Ziya Nggak pantas mewakafkan diri ini untuk bisa membela agama-Nya yang suci? Katakan bu, dimana letak kesalahan Ziya hingga Dia nggak menyukai Ziya? Katakan buuu... tolong katakan dimana letak kesalahan Ziya pada-Nya hingga Dia nggak ridho!” Ziya meluapkan rasa sesal yang seharusnya tidak muncul dari seorang muslimah yang dididik dengan baik dari kecil.
“Istighfar Ziya, istighfar...,” Ibunya mengelus lembut kepala Ziya.
“ Astaghfirullahaladzim...,” Ziya beristighfar dengan suara yang parau.
“Ibu tahu, Ziya anak yang berbakti, pintar dan sholehah. Tapi, itu hanya penilaian ibu sebagai manusia biasa. Ibu tidak tahu bagaimana penilaian Allah terhadapmu. Boleh jadi ketika Ziya berbuat baik dan melakukan peran sebagai seorang hamba, terselip rasa sombong, riya, tidak ikhlas, dan hal-hal lainnya yang Allah tidak suka. Istighfar Zi, jangan pernah menghujat Allah atas semua keputusan-Nya. Karena Dia tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.

“Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”(Al-Ankabut 69).

“Yakinlah Zi, yakin bahwa skenario Allah adalah yang terbaik. Kamu masih bisa berjuang sebagaimana impianmu dulu. Meski nggak bisa ke Palestina sebagai dokter, kamu masih bisa melakukan yang terbaik melalui pendidikan. Jika hari ini kamu nggak bisa menjadi dokter, maka melalui jurusan yang kamu ambil, InsyaAllah nanti akan lahir ratusan bahkan ribuan dokter. Maka bersabar, bertawakal dan bersyukurlah karena ini yang terbaik dari Allah. Bismillah, lakukan semua dengan sebaik-baiknya penghambaan.” Jelas ibu Ziya.

Ibu Ziya terus meyakinkan dan berusaha mengembalikan semangat putrinya atas apa yang Allah gariskan. Dengan penuh kasih sayang ibu Ziya merangkulnya, sehingga membuat air mata Ziya tak henti menetes dan bibirnya basah dengan lantunan istighfar memohon ampunan atas kekhilafan, hujatan, penyesalan, serta ketidak percayaan bahwa skenario terbaik adalah skenario-Nya.
Sementara itu, diam-diam sosok Ayah yang terkesan acuh, memperhatikan bagaimana istrinya mampu menenangkan dan meyakinkan anaknya akan ke Mahaan Allah. Cinta yang sudah lebih dari 20 tahun terjalin diantara keduanya, menjadi semakin harmonis.

Di balik gorden tipis itu, ayah Ziya mengucapkan syukur pada yang Maha Kuasa karena dikaruniakan seorang istri yang sempurna dan juga bersyukur karena diberikan amanah seperti Ziya. Dua wanita itulah yang menjadikan sosoknya mampu melakukan yang terbaik.

Terik mentari kota Santri, tak terasa panasanya karena sebuah keluarga kecil telah dibasahi cinta sang Maha Kuasa. Siang begitu cepat berlalu berganti dengan kemesraan baru yang berwarna senja, kemudian berubah menjadi gelap dan perlahan mengantarkan pada kemesraan dalam sepertiga malam penuh keagungan. Malam itu adalah malam terakhir sebuah keluarga sederhana bersujud bersama di tempat yang sama pula. Tak lagi tampak kecemasan akan masa depan. Hati Ziya kini mantap untuk melangkah, menapaki jalan yang telah ditetapkan.

Setelah subuh, ibu Ziya disibukan dengan suasana dapur yang harus dihidupkan. Sementara Ziya dan ayahnya mencoba untuk mengemas barang-barang yang akan dibawa ke kota barunya. Suasana kamar pada waktu itu amat hening, yang terdengar hanya suara lemari yang ditutup kemudian dibuka untuk mengambil barang yang diperlukan, serta suara resleting koper yang ditutup.

Ayah Ziya memang seperti tak banyak bicara dan Ziya pun tak tahu harus mengatakan apa agar keheningan itu bisa hilang. Lama berada di ruangan yang sama namun tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka, sehingga membuat Ziya gundah gulana. Ingin sekali dia mengucapkan terima kasih pada sosok ayah di depannya itu, tapi kelu dan malu rupanya telah membelenggu. Dalam suasana batin yang senyap dan sesak, keduanya terus berkemas hingga semuanya telah siap.
“Coba lihat lagi Zi, takutnya masih ada yang belum ayah masukan.” Ucap Ayah.
“Sepertinya sudah semua yah.” Sambil memberikan senyuman.
“Baiklah kalau begitu, yu! sekarang kita makan.”
“Kayaknya Ziya mau mandi dulu, baru setelah itu makan.”
“Jangan mandi, kamu kan nggak biasa bepergian jauh. Nanti kalau mandi, yang ada malah                   masuk angin. Ingat perjalanan kita nanti cukup jauh,” Ucap ayah Ziya menunjukan perhatian               penuh.

Ziya pun akhirnya mengikuti saran Sang Ayah. Suasana di meja makan luar biasa berbeda. Meja hampir penuh dengan berbagai makanan lezat, termasuk makanan kesukaan Sang Ayah, tapi menjadi makanan yang paling tidak disukai oleh Ziya, yaitu udang.

“Buuu...,” Belum sempat kata-kata itu selesai diucapkan oleh suaminya, sang istri sudah                        menyodorkan piring berisis nasi dengan udang dan sayuran. Beliau memberikan itu disertai dengan    senyuman manis. 
 “MasyaAllah, selalu saja seperti itu penuh kemesraan. Mungkin inilah yang disebut saling mencintai    karena Allah. Dimana ketika keduanya disatukan, mereka saling melakukan peran dengan sebaik-      baiknya peran, sesuai dengan tuntutan-Nya. Melakukan segala sesuatu dengan mengharap ridho          serta syurga-Nya.” Gumam Ziya dalam hati  ketika melihat kemesraan ayah dan ibunya.

       Lalu, tanpa ragu Sang Ayah mengucapkan terima kasih yang disertai senyuman tulus ikhlas atas dasar cinta. Pemandangan yang biasa disaksikan Ziya itu akan segera berakhir dalam beberapa jam lagi. Dia menikmati bagaimana detik-detik kemesraan yang terjalin dikeluarga kecil itu.
Sebelum pergi, Ziya memandangi setiap sudut rumah, lalu berhenti dalam waktu yang lama disebuah tempat favoritnya. Tempat itu adalah kamar dengan jendela terbuka lebar. Kamar tempat dimana dia terbiasa merenung dan menuliskan setiap moment yang telah dilaluinya. Tempat dimana dia biasa menghabiskan waktu, menikmati angin malam dan hujan. Perlahan Ziya memejamkan mata dan mengingat semua kisah yang ia lalui di rumah itu. Dia ingat bagaimana keluarga kecilnya selalu menghabiskan hari dengan penuh syukur dalam kesederhanaan dan teringat bagaimana ketulusan cinta kedua orang tuanya. Seolah semua itu menjadikan dia enggan untuk pergi.
Hati yang tenang kembali gundah. Namun dia harus pergi. Terselip kekhawatiran pada orang tuanya. Mungkin mereka akan merasa kesepian karena anak satu-satunya kini harus pergi. 
“Zi,” ibunya nemepuk pundak Ziya.
“Ya, bu,.” Sedikit kaget.
“Ayo! cepat Zi, Ayah udah nunggu di depan.”
“Oh ya, bu. Ziya juga udah siap.”
  Sebelum Ziya berangkat, ibunya mendo’akan untuk keselamatan Ziya.
 “Ziya pamit bu, Assalamu’alaikum.”
“Wa ‘alaikum salam.”  Ucap ibunya dengan tetap memberikan senyum terbaik.
Tidak ada air mata yang menetes. Ziya pergi dengan hati yang ikhlas dan ibunya pun melepaskan dengan penuh keikhlasan.

Aku adalah milik Mu
Dia juga milik Mu
Kita bertemu itu karena Mu
Jika harus berpisah,
Ku persembahkan untuk Mu
Untuk menggapai ridho Mu

Tangan yang tak lagi halus kemudian menggenggam Ziya, membawanya pergi meninggalkan sosok bidadari tak bersayap. Sorot matanya begitu meyakinkan, bahwa pergi kemanapun dan sejauh apapun, dia akan tetap ada untuk Ziya. Jika bukan melalui wujud nyata, dia akan ada melalui do’a yang di titipkan pada Sang Maha Esa.

“Ayo! Zi, ini udah terlalu siang.” Ucap Sang Ayah sembari mencoba meraih tangan Ziya.
“Ya, yah.” Seraya tersenyum manis.

Mobil tua yang kusam dan terkesan antik, perlahan membawa Ziya pergi menjauh. Dalam mobil, Sang Ayah hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Maka untuk menghilangkan kekakuan, Ziya memutar lagu-lagu nasyid kesukaannya. 
Setiap lagu yang diputar, seolah menyibak masa yang telah lalu. Masa dimana dia berjuang bersama anak-anak As Salam untuk tetap istiqomah dalam dakwah. Masa dimana ia tertawa lepas dengan kawan-kawan Az Zahra, masa dimana dia begitu bersemangat mendaki Galunggung dengan pakaian syar’i nya, dan masa dimana hidupnya damai dalam kesyukuran.
Alunan musik dan kenangan, sesekali membuat bibirnya tersenyum, membuat hatinya rindu, lalu membuat hiasan di pelupuk mata makin menajam. 
“Allahu akbar...!” Suara dengan nada amat tinggi keluar dari mulut Sang Ayah.
“Ada apa yah?” Ziya langsung terbangun, jantungnya berdegup kencang lantaran kaget.
“Coba lihat Zi !” Berusaha menunjukan kekagumannya.
“MasyaAllah... Allahu Akbar!” Kini Ziya pun merasa terpana atas apa yang tampak didepan matanya.

Sepanjang jalan penuh dengan lautan manusia dengan payung khas kota santri tempo dulu. Riuh bergemuruh diiringi lantunan dzikir mengangungkan asma-Nya. Mobil tua itupun harus menunggu rombongan itu berlalu. Tapi, rupanya bukan berkurang namun malah makin bertambah.
Sebenarnya Ziya dan juga ayahnya tidak keberatan walau harus menunggu lama. Karena, melihat rombongan para santri dihari kemerdekaan ini terasa lebih bermakna ketimbang melihat gelak tawa para hamba yang lupa akan nikmat dari Tuhan-Nya. Setidaknya keseragaman dan ketaatan mereka menjadi cambuk untuk senantiasa bermuhasabah diri.

“Tok...tok...tok...,” Seseorang mengetuk kaca mobil. Ziya kemudian membuka kaca mobil dengan perlahan.
“Assalamu’alaikum.” Ucap seorang santri yang mengenakan peci putih.
“Wa’alaikum salam.”
“Maaf, kalau boleh saya tahu bapak dan teteh ini mau kemana?” Tanya santri laki-laki itu.
“Kami mau ke Singgahan kang, tapi jalanan sepertinya macet. Jadi kami menunggu sebentar di sini.” Jawab ayah Ziya.
“Aduh... maaf pak, sekiranya pawai para santri menghambat perjalanan. Begini saja, kalau bapak nggak keberatan bapak bisa ambil jalan lain. Di depan ada pertigaan, pilih jalan ke kanan nanti tinggal lurus terus dan tidak jauh dari itu ada jalan besar, bapak pilih saja jalur Cihaur.”
“Oh... ya, kang terima kasih. Tapi, sepertinya saya butuh bantuan sedikit, akang bisa mengintruksikan santri yang di depan untuk memberi jalan? supaya saya bisa lewat.”
“Boleh pak, dengan senang hati.” Ucap santri berwajah teduh itu.
Tak lama setelahnya, santri tadi mengintruksikan agar memberi jalan untuk Ziya dan ayahnya. Mobil tua itupun akhirnya dapat bergerak meski perlahan. Alhamdulillah akhirnya buah dari kesabaran itupun dapat dinikmati. Ziya dapat melanjutkan perjalanan meskipun dengan arah yang berbeda.
Keringat mulai membasahi hampir seluruh tubuh Ziya, tangannya sudah terasa begitu dingin dan wajahnya pun mulai terlihat pucat pasi. Perlahan dia memejamkan mata, berusaha memaksakan diri untuk tidur agar rasa yang tak menentu dalam tubuhnya dapat hilang. Tapi ternyata tidak, semakin dipaksa keringat dan suhu dingin tubuhnya makin meningkat.
“Keluarkan saja Zi, biar plong.” Saran sang ayah
“Ziya juga pengennya dikeluari aja yah, tapi nggak bisa. Rasanya malah makin aneh.” Ucap Ziya dengan suara seperti orang yang mengigau.
Tiba-tiba dia teringat pada Didin, kakak sepupunya.Yang selalu melakukan hal konyol  ketika mual, lalu Ziya pun meniru hal ekstrim tersebut, dia mulai merogoh tenggorokan dengan jari telunjuk sampai semua isi perutnya keluar. Ziya pun merasa lega setelah isi dalam perutnya seakan tak bersisa, meski masih menimbulkan rasa pening.
Ziya memang tidak terbiasa naik kendaraan dalam waktu yang lama, apalagi jika kendaraan itu adalah mobil. Hal itu karena dia tidak terbiasa. Maklum saja, karena dia terlahir prematur dan pernah keracunan pas dalam kandungan, Ziya jadi mudah sakit. Dia tak boleh makan sembarangan dan juga kecapean. Tubuhnya sangat lemah. Karena hal itulah, ayah dan ibunya sangat over protektif. 
Namun, semua itu sudah berlalu. Kekebalan tubuhnya mulai membaik ketika dia menginjak bangku kelas tiga SMA. Dan kini dia bisa melakukan apapun sesukanya. Orang tuanya juga tidak perlu khawatir lagi. Bahkan Ziya diizinkan mengikuti segala bentuk kegiatan dan diizinkan pula untuk kuliah di luar kota. Ziya akhirnya tertidur. Sembari menyetir, Sang Ayah melirik putri kecilnya itu. 
“Putri kecilku sekarang sudah dewasa. Dia akan tinggal sendirian di sana. Ya Rabb tolong lindungi dia, jaga dia agar selalu bersama orang-orang yang mencintai-Mu. Aku memohon pada Mu Ya Allah, jaga putriku dan jaga keimanannya agar senantiasa mengingat Mu.” Do’a ayah Ziya dalam hati.

Setengah jam berlalu, Ziya akhirnya bangun. Kini kabut tipis lembut seperti kapas menjadi salah satu pemandangan luar biasa yang pernah dia lihat. Warna putih yang menggumpal menyamarkan mata yang sejak awal memang sudah buram menjadi semakin buram. Hanya nampak jalan aspal membelah pegunungan, meliuk-liuk membuat kepala dan perut si gadis manja itu kembali berputar-putar. 
Jalan panjang tak berujung. Pohon-pohon besar menjadi satu-satunya warna penyejuk mata. Pucuk daun cemara berselimut kabut sesekali telihat lantaran tersibak angin.
Siang itu, matahari sama sekali tak menampakkan cahayanya diperbatasan kota Manis - Singgahan. Semuanya hanya akan terlihat jelas ketika ada sentuhan angin yang menggiring kabut putih itu untuk bergeser sesaat. Sayangnya, perjalanan panjang itu malah terasa semakin parah, manakala gerimis turun perlahan dan membawa hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Beruntung di mobil ada jaket, setidaknya itu bisa menjadi penghangat tubuh.

“Ya Allah... perjalanan ini begitu panjang dan melelahkan, udara pun terasa begitu dingin, belum lagi kejadian-kejadian luar biasa yang nggak pernah terpikirkan olehku, akan menjadi pemanis perjalanan ini. Ya Allah, ternyata dinamika perjalanan untuk sampai ditujuan begitu rumit. Apakah mungkin seperti ini pula gambaran hidupku di masa depan?” Gumam Ziya dalam hati.
“Jangan ngelamun Zi, dari pada ngelamun nih! mending makan dulu biar perutnya nggak kosong.” Ucap ayahnya membangunkan Ziya dari lamunan.
Ziya pun mengambil makanan ringan yang sudah disiapkan dari rumah. Dia menawari ayahnya, tapi beliau tidak mau. Katanya kalau perut penuh malahan ngantuk nantinya.
“Zi, lagi mikirin apa sih!” Ayahnya tiba-tiba menanyakan hal itu, seolah-olah beliau tahu isi hati dan pikiran Ziya.
“Nggak ada yah. Ziya cuman bingung gimana caranya biar pusing ini ilang.”
“Udah, nanti juga baikan” Ucap ayah sembari mengelus kepala Ziya
Ziya pun hanya menunduk, sembari memakan cemilan ditangannya. Terlihat dia tidak begitu menikmati makanan itu. Ada rasa dimana dia belum bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah dilalui. Hatinya merasa, bahwa kedekatannya dengan Sang Pencipta begitu kurang. Sehingga sulit memahami apa yang tengah disampaikan oleh-Nya.

Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya berakhir juga. Ziya dan ayahnya telah sampai di kosan khusus putri. Kosan itu berdekatan dengan kampus dimana nanti Ziya akan menimba ilmu. Pemiliknya bernama Pak H. Uus. Orangnya sangat ramah dan juga hanif. Ziya dan ayahnya pun tiba, Pak Uus langsung menyambut dengan hangat. Mengantarkan keduanya ke kamar B di lantai dua, tepatnya yang akan menjadi tempat tinggal Ziya. Lalu beliaupun turun dan kembali lagi dengan membawa banyak makanan.

“Ayo, dimakan dulu. Perjalanan dari kota Santri ke sini kan cukup jauh,” Ucap Pak Uus sambil              menyuguhkan makanan.
“Oh ya, pak. Terima kasih.” Kata ayah Ziya.
“Baiklah kalau gitu saya pamit dulu. Silahkan dilanjut beres - beresnya.” Pak Uus pun pergi.
         Ziya dan Ayahnya langsung membereskan ruangan itu tanpa mencicipi makanan yang telah                 disediakan. Tak perlu waktu lama, karena memang barang yang Ziya bawa tidaklah seberapa. 
Waktu tak terasa semakin sore, Sang Ayah pun memutuskan untuk segera pulang.
“Zi, ayah pulang ya, jaga diri baik-baik, jangan pernah tinggalkan shalat, dan kalau ada apa-apa            segera hubungi ayah.” Nasehat ayahnya.
“Ya, yah. InsyaAllah Ziya akan menjalankan nasehat ayah.”
Sebelum pulang, ayah Ziya menemui Pak Uus dan menitipkan Ziya padanya. Gerbang kosan menjadi saksi untuk pertama kalinya gadis manja yang ceria harus berpisah dengan ayah tercintanya. Banyak hal yang sebenarnya ingin mereka ucapkan. Namun sungguh, lidahnya menjadi kelu tatkala rasa malu telah lebih dulu menyelimuti hati mereka dibandingkan kata cinta 


Mentari,
Pagiku selalu indah karena sinarmu

Yang bukan hanya sekedar hangat terasa
Tapi melukiskan cinta,
Cinta pada ku dan semesta

Mentari,
Pagiku selalu indah karenamu
Kau sanggup menggati gelap dengan terangmu

Wahai mentari
Terima kasih 
Karena pagi ini kau sudi bersembunyi
Membiarkan dingin menyelimuti 

Hingga dapat ku rasa
Hangat kasihnya







This entry was posted in