Apakah Wajib Vaksin Covid 19

 Vaksin Cinta untuk Sesama - Kuy Hijrah

Wajib Vaksin Umur Berapa

Pandemi covid 19 menjadi hal yang menggemparkan hingga saat ini. Banyak korban berjatuhan bukan hanya di Indonesia tapi juga di berbagai belahan bumi manapun. Ada banyak yang bersuara tentang virus ini, disatu sisi mengatakan ini adalah penyakit yang sengaja dibuat dan sengaja disebarkan demi keuntungan pihak-pihak tertentu. Ada pula yang mengatakan bahwa hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan pihak-pihak tertentu. Ada pula yang percaya akan keberadaannya namun ada pula yang tidak percaya sama sekali sehingga menjadi abai terhadap protokol kesehatan. Terlepas dari berbagai spekulasi yang muncul dan juga percaya ataupun tak percaya itu tergantung pada diri sendiri ya kawan, tapi admin sendiri merasa percaya karena beberapa orang mengalaminya.

Baca Juga

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas virus tersebut. Mulai dari himbauan untuk selalu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, kemudian ada PPKM, dan hal lainnya, kini sampai pada upaya yakni vaksinasi yang sedang digencarkan.

Wajib tidaknya vaksin ini masih menjadi proses. Kenapa demikian? karena masih banyak yang tak mau namun ada pula yang mulai berlomba-lomba divaksin, sampai rela antri panjang demi mendapatkannya. Alhamdulillah mudah-mudahan ini salah satu ikhtiar terbaik. Namun ketika kemelut pandemi masuk keberbagai lini hingga ekonomi, mengapa sampai pula masuk ke ranah rasa simpati. Vaksin sudah ada namun tidak mengembalikan secara utuh rasa pada sesama.

Bukankah selain vaksin covid kita juga butuh vaksin cinta untuk sesama? membantu mereka yang terdampak parah, menyemangati mereka yang berjuang melawan covid, dan mengapresiasi mereka yang berusaha merawat pasien hingga mencari obat terbaik.

"Tanpa ekspresi bahkan cinta terhebatpun akan mati" Kata Robert J. Stemberg dalam memaknai cinta. Nah, maka cinta perlu siekspresikan tak hanya dengan kata-kata tapi juga sebuah pembuktian nyata. Maka ketika pandemi merenggut orang-orang tercinta, ekonomi carut marut, pengangguran mulai menjamur, ada yang menangis lapar karena tak bisa membeli beras, ada yang menggerutu karena setiap saat harus mendampingi anak belajar di rumah sedangkan membutuhkan akses internet dan ada harap yang hilang.

Semoga melihat kondisi tersebut kita mampu mengekspresikan cinta pada mereka tidak hanya melalui kata tapi pembuktian. Mari tengok keluarga kita, tetangga kita dan orang-orang terdekat kita pastikan minimal mereka memiliki harapan hidup dan bisa bertahan hidup. Saling berbagi makanan misalnya, berbagi semangat dan juga berbagi peluang untuk menghidupkan kembali perekonomian. 
This entry was posted in